Monday, January 21, 2008

Solat Ajaib (3)

Kategori ajaib yang ketiga jatuh kepada para penggemar invasi.

Cirinya? Yang paling khas adalah sesaat sebelum sujud. Pas mau menurunkan badan dari i'tidal ke sujud, mereka akan memundurkan dulu kakinya, masuk ke area sujud saf di belakangnya. Ada yang sedikit, tapi ada juga yang senang menjajah sampai 20 cm bahkan lebih.

Di tempat solat yang jarak antargaris saf-nya pas-pasan, jelas ini akan membuat orang di belakang mereka sangat menderita. Bagaimana tidak, ia terpaksa melengkungkan punggungnya dengan sudut yang akut supaya tempat yang tersisa cukup untuknya bersujud. Masih ditambah satu bonus: kalau kalah dulu bangkit dari sujud, kepalanya akan terinjak the invader yang hendak berdiri - atau minimal rambutnya yang terinjak kalau tidak memakai tutup kepala.

Ada juga jenis invader yang menyamping. Rakaat demi rakaat dia senang memperlebar jarak kakinya - kadang dia menggabungkan kebiasaannya dengan keajaiban lain, yakni menginjak. Jenis invader ini tidak peduli apakah sesama makmum di sebelahnya akan tergencet saat sujud atau tidak, sama seperti ketidakpedulian invader yang saya sebutkan di atas akan kesusahan jamaah di belakangnya.

Bila kita menemui para invader ini saat solat berjamaah, hendaknya kita bersabar dan jangan malah ikut-ikutan :-)

Sunday, January 20, 2008

Refleksi Perjalanan Menuju Delta Mahakam (2-habis)

...sambungan dari sini

Setelah perjuangan yang tidak mudah, sekitar Maghrib, sampai juga aku di mess tamu yang terletak dalam kompleks pabrik pupuk itu. Beberapa wajah familiar, yakni teman-teman seperjuangan di kampus, segera menyambut. Di samping, tentunya, seratusan wajah lain yang belum kukenal.

Herannya, saat mengecek telepon genggam, ada missed call dari kantor tempatku tadi diwawancarai. Hmmm, secepat itukah mereka memutuskan? Oya, gilanya, aku baru tahu 'gambaran' jenis usaha kantor itu setelah di-interview. Itupun masih gambaran nggrambyang: engineering company di bidang migas - whatever that is.

Paginya, di sela-sela jadwal berbagai tes yang harus kali lalui (tertulis, wawancara, bahkan fisik), aku segera mengecek. Dan benar, mereka meloloskanku ke tahap medical check-up (MCU), yang konon kata banyak orang sekedar 'formalitas' saja kecuali kandidat mengidap sakit berat.

Sempat terjadi dilema juga, bagaimana ya kalau nanti di pabrik pupuk ini aku lolos juga? Ini murni karena ketidaktahuanku tentang prospek kerja di sebuah engineering company. Ditambah lagi, idealisme bahwa Sarjana Teknik Kimia ya seharusnya menerapkan ilmunya di pabrik kimia masih kental meliputi benakku.

Tapi seperti sudah digariskan, pilihanku jadi sangat mudah karena aku gagal di seleksi pabrik pupuk. Sebaliknya, aku dinyatakan lolos dari MCU oleh si engineering company itu dan ditawari gaji hampir satu setengah kali lipat apa yang kuancar-ancarkan saat wawancara - dan lebih dari dua kali lipat dari entry level salary di pabrik pupuk 'idaman' tadi. Deal or no deal? It was a no brainer: DEAL!

Guess what, di perusahaan engineering itu ternyata aku hepi - pekerjaan cocok, rekan-rekan kantor sangat friendly dan suasana kerja tidak membuat stres. Kantor itu jugalah yang akhirnya menjadi tempatku mencari nafkah sampai akhirnya aku menikah dan dianugerahi seorang putri.

Days go by, tak terasa sudah dua tahun lebih aku 'belajar' di sana. Ada mitos di perusahaan engineering bahwa seorang engineer sudah dinyatakan 'lulus' saat ia diminati oleh dan lalu pindah ke 'klien'. Klien di sini adalah oil and gas company - yang notabene memakai jasa perusahaan engineering dalam proyek-proyeknya. Benar saja, tak sampai dua hari setelah aku mengakikahkan anakku, ada informasi dari seorang 'alumni' kantorku yang sudah duluan 'lulus' bahwa dia sedang mencari seorang junior process engineer. Setelah CV-ku terbang ke sana, sore hari itu juga recruiter segera meneleponku untuk menjadwalkan tes wawancara - di sinilah aku menjadi yakin bahwa istilah 'rezeki anak' itu sama sekali bukan omong kosong.

Setelah melalui berkali-kali wawancara dalam kurun waktu hampir tiga bulan - coba tebak berapa interview yang harus kujalani - akhirnya tawaran gaji kuterima dan resmilah aku 'lulus'. Mau mengecek tebakannya? Believe it or not, aku diwawancarai oleh sebelas orang berbeda dalam sembilan sesi - dua sesi di antaranya di Balikpapan! Hahaha, kebalikan dari kantor sebelumnya, di sini ternyata keputusan merekrut orang bisa amat sangat berbelit.

September 2006 menjadi lembaran baru kehidupanku. Aku kini bekerja di sebuah perusahaan eksplorasi dan produksi migas yang sumber gasnya (minyaknya tinggal sedikit sekali) terkonsentrasi di Delta Mahakam, Kalimantan Timur. Alhamdulilah, dari sisi kesejahteraan dan pengembangan karyawan, perusahaanku kini jauh lebih baik dari yang pertama.

Refleksiku berakhir di sini. Saat aku meretas jalan ke 'pabrik kimia yang ideal', ternyata Tuhan mempertemukanku dengan jalur yang lain. Is this what they call serendipity?

Friday, January 18, 2008

Solat Ajaib (2)

Keajaiban solat berikutnya adalah para penganut sistem 'solat yang mengalir bagai air' - thanks to my buddy OQ Akbar untuk istilah ini :-) 'Mengalir' karena tanpa jeda, bahkan i'tidal dan duduk di antara dua sujudnya bisa dibilang sudah tidak terlihat.

Ciri khas mereka adalah high-speed. Untuk koneksi internet, tentu ini bagus, tapi untuk solat?

Seorang teman yang lain pernah berujar, "Mereka ini mbaca apa to ya, kok bisa cepet banget begitu?"

Kadang aku iseng coba-coba mengikuti mereka. Misalnya ada masbuk atau jamaah yang baru datang belakangan dan aku sudah selesai solat (kurang gawean, Ndan, bukannya konsen dzikir malah jelalatan ngeliatin orang lain). Ketika di rokaat pertama terlihat 'aliran air' itu, aku akan mencoba membatin Al-Fatihah berbarengan dengan saat dia bangkit dari sujudnya. Aku usahakan membacanya secepat yang aku bisa. Pada banyak kesempatan, ternyata, tetap saja sebelum aku kelar dia sudah rukuk duluan.

Akhirnya, memang, pertanyaanku kawanku tadi seharusnya diubah menjadi: "Mereka ini TIDAK mbaca apa to ya, kok bisa cepet banget begitu?" :-)

Refleksi Perjalanan Menuju Delta Mahakam (1)

Terlepas dari jadwal rotasi yang panjang, dus waktu berjauhan dengan keluarga yang lama pula, seperti kukeluhkan sebelumnya, sungguh banyak yang harus aku syukuri di tempat kerjaku sekarang. Dan dalam perjalananku ke sini, ternyata, berbagai hal yang berbau 'kebetulan' banyak menyertai.

Cerita bermula empat setengah tahun yang lalu, di masa pencarian kerja selepas lulus dari kawah candradimuka perkuliahan. Dengan kalapnya, berpuluh surat lamaran aku sebar ke berbagai penjuru. Sesuai bidang ilmuku, sebuah tujuan ideal bernama 'pabrik kimia' menjadi target utama. Salah satunya adalah pabrik pupuk pelat merah di timur Jakarta.

Saat dipanggil tes tahap pertama, dalam perjalanan dengan bus, aku ditelepon oleh seorang recruiter dari perusahaan yang akhirnya 'memperjakai ke-fresh-graduate-anku'. Suaranya di telepon tak jelas, bahkan aku lupa apa aku pernah melamar ke mereka (maklum, saking banyaknya surat lamaran yang kukirim via email). Aku cuma bilang, "Can you please call me back or send me an email, I can barely hear you."

Dan aku tetap berkonsentrasi menembus tes pertama pabrik ini (apalagi setelah lima bulan sebelumnya gagal terus di kancah persaingan memburu kerja, tekanan semakin terasa), melupakan si penelepon misterius tadi.

Oke, singkat cerita, tes pertama lolos. Tes berikutnya adalah seleksi maraton selama empat hari di tempat yang sama beberapa minggu kemudian.

Sang recruiter misterius dari perusahaan antah-berantah kembali menelepon, dia menanyakan kapan aku bisa ke Jakarta untuk interview. Kuputuskan untuk mendekatkannya dengan jadwal tesku di pabrik pupuk, biar sekali jalan.

Aku ingat waktu itu aku berangkat dengan KA ekonomi (seperti biasa) menuju Stasiun Pasar Senen. Foto diambil dari id.wikipedia.orgSenin jam 4 subuh aku sudah tiba di Senen. Jadwal wawancara adalah jam 2 siang. Hahaha, jadi ingat waktu aku leyeh-leyeh di musola stasiun bersama para pengamen menunggu siang. Yap, mandinya di stasiun juga :-)

Saat akhirnya tiba di kantor yang kucari - I was an hour early - Pak Tukang Ojek bertanya, "Kerja di sini, Mas?" Mungkin dia heran melihat seseorang bertampang ndeso membawa tas besar yang diantarnya dari stasiun kelas dua ternyata bertujuan sebuah gedung yang lumayan bagus. "Belum, baru mau tes," jawabku.

Seorang Bapak Security di pos penjagaan juga sempat heran melihat barang bawaanku, "Dari kampung ya?" tegurnya sinis. Jujur, aku mangkel mendengar ucapan itu.

Kita skip saja bagian interview, standarlah itu. Setelah keluar dari kantor itu, segera kucari warung kakilima untuk sekedar bertanya rute ke Terminal Pulogadung dan mengganti sepatu 'kantoran'-ku dengan sandal yang lebih nyaman untuk berperjalanan. Journey to 'karantina di Karawang' baru akan dimulai.


Solat Ajaib (1)

Solat Isya semalam menyandingkanku dengan sesama makmum yang cukup ajaib. Bila biasanya aku akan berusaha semampunya dan sewajarnya untuk dapat menempelkan tumitku ke tumit makmum di sebelahku, maka tadi malam aku dibuat kalang kabut menghindari serangannya yang agresif!
Grafis diambil dari www.its.ac.id
Bagaimana tidak, alih-alih menempelkan tumit, dia sepertinya beraliran garis keras 'menginjak'. Bukan bagian belakang kaki, tapi dia menggunakan jari kakinya untuk menginjak kaki makmum di sebelahnya (arah kakinya tidak lurus ke depan, tapi membuka & melebar). Aku sih biasanya tidak berkeberatan dengan hal ini, tapi yang semalam itu benar-benar ajaib.

Tidak cukup dengan menginjak lalu puas, dia menggerak-gerakkan dengan kuat kaki dan badannya - aku heran kenapa ya dia nggak berhenti bergoyang - sehingga injakannya terasa sakit dan sangat tidak nyaman di tepi kakiku :-(

Wah, ancur deh. Solatku yang masih jauh dari khusyuk ini semalam benar-benar makin jauh lagi dari kekhusyukan yang didamba-dambakan.

Sunday, January 13, 2008

Sepakbola Versus Mabuk

Apakah menurut Anda kemajuan sepakbola di kota Anda dapat mengurangi penyakit masyarakat khususnya 'dua bersaudara': kekerasan dan miras? Kalau iya jawabannya, maka Anda sependapat dengan seorang pendukung Sriwijaya FC seperti terkutip di sini (bila tautannya tidak berfungsi, silakan perbesar gambar berikut).

Oalah, Mas, apa ya ndak terlalu mahal harga yang harus rakyat bayar (lewat APBD) bila hanya untuk membuat orang tertarik menggeluti sepakbola lalu 'mengurangi' hobinya berkelahi dan mabuk-mabukan (saya masih nggak habis pikir bahwa ada banyak orang yang actually hobinya berkelahi dan mabuk)? Seberapa signifikankah penurunan jumlah penggemar 'hobi-hobi' nyleneh itu? Bukankah justru sepakbola kita masih sangat identik dengan 'berkelahi' itu sendiri? Bukankah sebenarnya klub tidak akan terlalu besar pasak daripada tiang jika mau meminimalisasi jumlah pemain asingnya (ya, meminimalisasi, bukan seperti yang terjadi sekarang: berapa pun batas maksimalnya, segitu pula yang dikontrak dan digaji dengan uang rakyat)? Bukankah menekan - atau menghilangkan sama sekali - sumbangan APBD di klub akan menjadi lebih 'adil' bagi rakyat dan membuat klub menjadi lebih profesional? Ingat, tidak semua orang menggemari, bahkan peduli, pada sepakbola.

Ah, jangan-jangan hanya sayanya saja, yang sudah bosan dengan mahalnya sepakbola Indonesia yang belum juga beranjak ke mana-mana itu.

Updated: Selamat buat Sriwijaya FC yang tadi malam merebut Copa Indonesia lewat drama adu penalti atas Persipura Jayapura. Kalau begini, jangan-jangan uang seabreg masyarakat Palembang untuk klub memang sebanding? Oya, perayaaan kemenangannya jangan dibumbui mabuk-mabukan dan perkelahian ya? :-)

Friday, January 11, 2008

Cute Animals

Nyambung tulisan sebelumnya, sebenarnya ada bonus tambahan ketika kita berada di lapangan, terutama daerah pedalaman: kesempatan bertatap muka dengan binatang-binatang eksotik!

Ya, di site yang sebelumnya, kami sempat akrab dengan beberapa spesies kera dan kepiting yang berwarna-warni. Terus, beberapa jam yang lalu kami sempat melihat seorang petugas kebersihan sedang 'bergelut' untuk menangkap seekor teman kecil seperti foto di bawah ini.

Awas Mas, ati-ati bisanya nyembur...
Hampi berhasil ketangkep

Sayang, momen saat leher Si Kobra cantik ini sedang mengembang tidak terjepret HP-ku. Memang sih ini masih 'anak-anak', tapi tetap saja desisannya membuat kami keder. Moga aja induknya nggak balas dendam masuk ke ruang kerja atau kamarku yang hanya beberapa belas meter saja dari situ...

Now I Know

Warning: tulisan ini sangat kental beraliran Curhatisme.

Membuka-buka arsip tulisan lama mengantarkanku pada posting yang
ini. Mungkin memang sudah jalanku, yang menceburkan diri di bidang migas, bahwa cepat atau lambat aku akan mengalami masa-masa kurang lebih seperti yang kutulis waktu itu.

Saat menulis ini, aku sedang berada pada rotasiku yang keempat. Sistem kerjanya adalah empat minggu 'on' - empat minggu 'off' (well, karena ada overlap dengan back-to-back kita, dalam prakteknya jadwal berubah menjadi 30 hari masuk-26 hari libur; belum lagi kalau ada training, dsb). Rencananya, aku ditempatkan di sini sementara saja, yakni untuk nyantrik di departemen yang namanya 'Commissioning' - ndak perlu dijelaskan panjang lebar binatang apa ini, intinya dia adalah bagian divisi proyek yang bertugas memeriksa kesiapan instalasi baru sebelum diserahkan ke Divisi Operations. Setelah ini (mungkin tiga bulan lagi), teorinya, aku akan balik kandang berkantor di Jakarta.

Teorinya? Well, you never know what the boss really plans for us, right? Bisa saja karena kebutuhan manpower di departemen ini, aku akan dilapangankan lebih lama. Setahun lagi, dua tahun lagi, siapa tahu?

Di lapangan, berarti ada kenaikan gaji dan tetek bengek tunjangan lainnya kan? Tentu saja. Kalau enggak, semua orang nanti minta kerja kantoran saja :-) Dan setelah mencobanya sendiri - menjalani empat rotasi, sepertinya preferensiku makin jelas terlihat ke arah mana. Surprise, surprise, sama seperti kesimpulanku di tulisan yang dulu.

Berdekatan dengan keluarga (Bahasa Rusianya = nyandhing), ternyata, tetap lebih menenangkan hati. Apalagi ketika kita baru punya satu anak, yang sedang lucu-lucunya pula...

Sunday, January 06, 2008

[Flash Fiction] Terima Kasih, Pak Sopir...

“Iya, sebentar,” bergegas aku lari ke pintu depan. Ternyata Pak Sopir yang tadi mengantar kami pulang dari bandara.

“Maaf, Pak, ini tadi ketinggalan di jok belakang. Sepertinya penting sekali,” katanya sambil mengangsurkan sebuah sim card ponsel. Peluh membasahi dahi dan bajunya. Nafasnya sedikit terengah. Maklum, rumah kontrakan kami memang masuk lumayan jauh dalam gang. Apalagi dia juga pasti lari-lari supaya gerimis yang sedang turun tidak terlalu membasahi pakaiannya. Masih ditambah lagi koper bawaan kami sekeluarga yang tadi turut diangkatnya lumayan banyak. Mungkin AC di taksi belum cukup meredakan gerahnya sejak setengah jam yang lalu.

Belum sempat aku membuka mulutku, dia bergegas pamit,

“Ok, Pak, saya langsung saja, sudah ditunggu penumpang lain,” ujarnya sambil tersenyum dan kembali berlari ke arah jalan raya.

“Y..ya, Pak, makasih banyak ya. Hati-hati di jalan,” jawabku setengah berteriak.

Bersungut-sungut, kuamati barang mungil itu di telapak tanganku. Ah, seandainya sim card bekas ini kemarin langsung kubuang saja, tidak pakai acara disimpan-simpan segala di dompetku.

“Semoga Allah melancarkan tugas dan rezekimu, Pak Sopir,” bisikku sambil menutup pintu.

...terinspirasi pengalaman pribadi...

Wednesday, January 02, 2008

Belajar Berhitung

Peringatan: posting ini gak penting alias sekedar iseng aja.



Ok, Anda telah diperingatkan namun memutuskan untuk terus membaca. Baiklah.

Lihat di sini
Catatan redaksi Okezone tentang tahun baru (moga-moga link-nya idup, p.s. tanpa disengaja jadi agak nyambung sama posting sebelumnya ya :-p).
Maka Anda akan menemukan ini:


Klik untuk memperbesar

Setelah saya hitung, dan saya hitung ulang, sepertinya yang bener empat negara kan ya?

Tapi bagaimana lagi, mungkin tekanan deadline membuat sang redaktur kurang berkonsentrasi ketika menulis artikel itu.

Oya, satu lagi, dia mungkin kurang suka ya dengan Australia, sampai namanya diplesetkan seperti itu... Hehehehe...

Tuesday, January 01, 2008

Time to Burn Some Money

"Tau nggak, Yah, Pak RT kita kemarin belanja kembang api buat tahun baruan habis 800 ribu lho," begitu cerocos istriku di telepon semalam.

Nggak usah jauh-jauh ke Monas atawa Ancol, di lingkungan RT-ku sendiri, 'membakar uang' dalam jumlah tak sedikit di pesta pora tahun baru ternyata adalah hal yang lumrah. Masih mendingan dibelikan makanan kan? (Yeaahh, akan mendingan lagi kalau uang itu disumbangkan ke korban banjir, dsb, dst, but we're no angels, right?)

Pasti sudah banyak posting, tulisan, artikel tentang hal ini. Dan dari tahun ke tahun, gugatan tentang kebiasaan 'buang-buang uang untuk hura-hura malam tahun baru' pasti akan selalu terulang. Apakah memang kitanya yang ndableg (maaf, pakai Bahasa Jerman) atau kurang bernurani atau sudah sedemikian butuhkah kita akan pesta tahun baru ini? Sudah sedemikian wajibkah hiburan 'bakar-bakaran' itu bagi kita?

Akhirnya, selamat tahun baru bagi yang merayakannya.