Thursday, December 21, 2006

Qoute of the Day: Nunung Setiyani

"Saudara, penyelidikan polisi atas kematian Alda semakin seru..."


(Nunung Setiyani, presenter Liputan 6, dalam Liputan 6 Petang 20 Des 2006)



Penyelidikan kok seru, Anda pikir ini pertandingan sepakbola?

Hmm, ini seolah menggambarkan posisi Liputan 6, khususnya, dan pers pada umumnya, hanyalah sebatas menjadi penonton yang bersorak sorai melihat 'serunya' berbagai kasus di negeri ini :-(

Komporin terus, Mbaaaakkkk, biar laris liputannya...

Wednesday, December 20, 2006

Poliponik, eh, poligami...

Mengapa Indonesia heboh banget (i.e. pro-kontra, debat & polemik di berbagai media dari infotainment sampai blog dan berbagai tempat dari warteg & tempat jualan sayur sampai Istana Negara & Senayan, dst) saat tahu A'a Gym berpoligami?

Karena dua faktor:

1. Pelaku poligami adalah seorang (yang dianggap) panutan dan
2. Sang madu lebih muda & cantik daripada istri pertama

Kalau satu saja, di antara klausul di atas, tidak terpenuhi, ya nggak bakalan seheboh itu - bahkan mungkin nggak akan dibahas orang sampai sekarang.

Oh well, mengutip Metro TV:

"It seems that the president is more interested to think about men with two or more wives than people with zero homes (maksudnya korban Lapindo Brantas)."

Oya, kira-kira A'a dan keluarga merasa tertolong nggak ya dengan kematian Alda? Lampu sorot pindah sasaran kan?

Hush, ngawur! :-D

Serupa tapi Tak Sama




Meja kursi kayunya memang mirip sih. Hmmm, tapi yang satu langsung di atas pasir, sedangkan yang lain dilapisi semacam 'panggung', tidak langsung di pasir.


Berarti lokasinya sama? Atau minimal sama-sama di pantai?









Wuah, ternyata nggak tuh.





Nisrina yang pake pink itu lokasinya di Waterboom Cikarang. Nhaaa, yang pake biru itu baru di pantai beneran (di 'halaman depan' Le Grandeur, Balikpapan).

Wah, asik dong Nisrina, sering jalan-jalan?

Kalau nggak ABK (Atas Biaya Kantor), ya nggak ke sana :-) Emang rezeki anak kok. Alhamdulilah.

Monday, December 18, 2006

Quote of the Day: Ki Joko Bodho


"Arwah Alda masih gentayangan di hotel ini. Lihatlah, di depan hotel ini kan biasanya banyak taksi mangkal, sekarang sepi. Ini karena masih ada aura seram setelah kematian Alda."

(komentar Ki Joko Bodho tentang suasana 'mistik' di Hotel Grand Menteng - wawancara dengan wartawan infotainment)





Ya iyalah sepi, Ki, lha wong masih dilakukan penyelidikan di sana, plus tamu hotel juga lagi sepi. Kalau masalah aura seram, mungkin akan sedikit berkurang setelah sampeyan pulang nanti :-D

Monday, December 11, 2006

I Felt Bad...

Beberapa saat yang lalu aku menerima telepon dari seorang mantan rekan sekantor, lebih tepatnya: mantan atasan. Sekarang kami telah sama-sama eksodus dari kantor lama. Obrolan dengan dia, sayangnya, hanya sekitar 25% - paling pol 40% - bermanfaat. Selebihnya ngalor ngidul nggak karuan atau yang jeleknya: ngomingin orang.

Ini yang membuatku kadang (baca: sering) malas berlama-lama bicara dengan dia. Padahal pada dasarnya dia orang yang baik, mau membantu dalam banyak hal dan cukup sayang pada beberapa mantan bawahannya, terutama yang dia rasa berprospek bagus di masa depan.

Nah, kejadian tadi agak unik karena I was saved by the bell. Setelah sekitar 3-4 menit berapakabar-ria, dia mulai menanyakan - lebih tepatnya: ngajak ngomongin - orang lain, yakni mantan rekan sekantor juga. Saat aku sudah mulai berpikir untuk cari alasan menutup pembicaraan, kebetulan telepon di meja sebelah berbunyi. Kebetulannya lagi, temanku yang duduk di situ sedang meeting keluar. Jadi deh, itu telepon berdering-dering bising.

Spontan dia nanya,

"Eh, itu telepon bunyi, buat kamu ya?"

"Eee, sepertinya iya tuh Pak..." tandukku pasti terlihat jelas saat aku bilang ini :-)

"Ya udah deh, disambung lain kali, jangan lupa imel-imelan ya."
Pffhhh, lolos, coy! Tapi... aku tadi jelas-jelas bohong tuh. Padahal dia kan telepon untuk bersilaturahmi. Jadi nggak enak deh...

Tuesday, December 05, 2006

Quote of the Day: Maria Eva


"Saya dan Pak YZ sudah seperti kakak-adik..."


Wah, jadinya kalian berdua sudah pernah 'seperti incest' ya, hehehe...

Tuesday, November 28, 2006

To Nidji

Dear Nidji,

I know you guys are relatively good English speaking people compared to a lot of us. But I'm not sure if you master Bahasa Indonesia as well. So please let me suggest a correction to your lyrics a little bit:

The translation of falling in love with you to Bahasa Indonesia is not jatuh cinta bersama dirimu - as in your song. It should be jatuh cinta kepada dirimu. Remember to keep your sense working when writing lyrics. Languages should not be translated purely word by word.

Than again, I could be wrong when interpreting your britpop oriented songs?

Thursday, November 23, 2006

The Next Babysitter

"Pinter beneeer. Pasti nontonnya Indovision."

Begitu kurang lebih jargon sebuah televisi berlangganan dalam iklannya. Ada beberapa versi iklannya, namun yang akan saya bahas di sini adalah versi 'balita'.

Terlihat di iklan itu betapa seorang anak berusia kurang dari 3 tahun (atau malah 2 tahun?) dapat 'dididik' oleh acara TV sehingga ia bisa dengan terlatih pipis di toilet tanpa bantuan orang dewasa. Di satu sisi adegan itu jelas catchy & cute sekali, sekaligus membuat para calon konsumen sangat tertarik. Namun di sisi lain, sebenarnya ada masalah yang patut diwaspadai.

Beberapa waktu lalu saat meng-hire babysitter mulai menjadi pilihan banyak pasangan, khususnya di kota-kota besar, ada kekhawatiran bahwa anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan 'Si Mbak' akan menjadi lebih dekat kepada 'mbak'-nya daripada dengan orangtuanya sendiri. Terbukti, beberapa kali kita baca atau dengar ada seorang ibu yang 'sakit hati' karena ketika menyuruh anaknya melakukan sesuatu, ternyata sang anak tak mau patuh dan justru lebih mendengar kata-kata babysitter-nya. Atau sang anak merasa sangat tergantung dengan 'mbak'-nya, tak bisa ditinggal mudik, menjadi jauh secara batiniah dan kurang sayang pada ayah ibunya, dan sebagainya.

Intinya, ayah ibu - terutama ibu - yang lebih memilih berkarir dan menyibukkan diri dengan agenda yang terlalu padat dan kemudian mempercayakan tumbuh-kembang anaknya sejak lahir pada babysitter sangat riskan mengalami hal 'menyakitkan' tadi. That's fact.

Nah sekarang, dari iklan yang tadi saya sebutkan, saya khawatir ide iklan itu muncul dari konsep yang lebih ekstrem daripada mempekerjakan babysitter: didiklah anak dengan cara sebanyak-banyaknya menonton acara TV yang 'bermanfaat' semacam program yang ditawarkan di iklan itu. 'Keberhasilan pendidikan' yang disorot di iklan itu sepertinya akan makin membenarkan perilaku orang tua yang memprioritaskan profesi atau kesibukan di luar rumah di atas membimbing putra-putrinya sendiri.

"Toh anak kita enjoy nonton Baby TV seharian, cepat pintar lagi..."

Mangapa lebih ekstrem? Karena sejelek-jeleknya pola pengasuhan dengan babysitter, paling tidak anak masih merasakan bimbingan manusia, bukan kotak ajaib penayang berjuta channel.

Kita perlu lebih bijak dalam hal ini. Mungkin kita memang tidak bisa tidak menyewa jasa 'mbak' untuk buah hati kita atau kita memang perlu lebih banyak acara TV yang mendidik (karena Dora saja tidak cukup, misalnya. Wait a minute, Anda yakin Dora mendidik?), tapi harus kita camkan bahwa peran orang tua dalam mendidik anaknya is still paramount. Bantuan babysitter, dan mungkin juga TV, untuk menemani putra-putri kita adalah alternatif terakhir.

Hmmm, apa mungkin ya di masa datang akan ada keluhan dari seorang ibu yang sakit hati karena anaknya lebih merasa sedih saat TV-nya rusak daripada saat sang ibu sakit? Moga-moga nggak terjadi deh...

Tuesday, June 06, 2006

Siapa KangBono™?

Pertama-tama: mengapa KangBono™?

Begini, pertama dipanggil 'Bono' oleh seorang teman semasa kuliah. Asal-muasalnya sebagai ledekan atas nama punggung yang tercetak di kaos sepakbola angkatan. Karena kurang primanya kualitas bordir, "BOND" lebih terbaca sebagai "BONO" (yakin deh, para penggemar U2 takkan rela, but hey, ini bukan kehendak pribadiku lho :-p please, take a bow, the real Mr. Bono).

Selanjutnya sohib iseng yang satu itu menambahkan gelar 'Kang'. Dan kemudian makin banyak teman kuliah baik seangkatan maupun adik-adik tingkat yang ketularan memanggilku dengan sebutan 'Kang Bono' - terutama dari kalangan pemain truf kampus (baiklah, aku ngaku, lebih dari 25% waktuku di kampus dulu kuhabiskan bermain kartu khususnya truf).

Lalu, mengapa foto close-up-wajah-miring-ekspresi-norak ala ABG Friendster itu yang mejeng di profilku? Well, kalau bukan karena foto itu hasil jepretan anakku, tentu tidak akan kupasang :-)

Ok, sekarang lebih mendalam tentang KangBono™:
  • Dari bayi cenger sampai lulus kuliah menetap di Jogja. Selanjutnya, glidhik di Jakarta sampai sekarang.
  • Suka menulis. Itulah mengapa blog ini ada.
  • Orang Jawa yang memalukan karena tak fasih berbahasa Jawa halus dan nggak ngerti aksara Jawa :-(
  • Punya istri cuaantik, dokter pula (ra sah protes!). Semasa pacaran, kalau ada orang yang komentar: "Ooo, ini to gadis yang beruntung itu?" saat kukenalkan dia, aku selalu menjawab: "Oh, bukan, ini bukan gadis yang beruntung. SAYALAH pria yang paling beruntung." Itulah mengapa akhirnya dia mau kunikahi, wakakakaka... Ga dhiiing, guyooon. Jelas dia dong yang amat sangat beruntung sekali bisa ngedapetin aku. Setuju kan? *sambil mengangsurkan kantong muntah*
  • Ayah dari Nina & Naura, dua bidadari kecil yang lucu.
  • Masih tunafesbuk (baca: nggak punya akun Facebook) sampai saat Anda membaca tulisan ini.
  • Suka basket dan sepakbola semenjak ABG but unfortunately have never been good at either of them. At all.
  • Karena satu dan lain hal, sempat sekitar 2 tahun meninggalkan hobi bermain Hattrick. Namun kini telah aktif lagi memanajeri sebuah klub di game online terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia ini.
  • Selalu meletakkan politik di tempat yang sepantasnya: sebagai bahan guyonan belaka.

That's about all, nuff about me. Eniwei, tengkyu sudah mau mampir di blog sederhana ini. Jangan ragu-ragu untuk komen, plis ;-)


Thursday, April 06, 2006

Hadirnya Nisrina: The Cengkareng Escape

Selasa, 21 Maret 2006
17.30
Kami memeriksakan kandungan ke Dr. Winur di YPK Menteng. Seperti biasa, everything was okay. Kami bilang kami sudah putuskan untuk melahirkan di Jogja dan akan berangkat tanggal 30 (artinya kami masih bakal periksa sekali lagi ke Dr. Winur minggu depan). Cukup riskan memang, mengingat dokter mematok perkiraan lahir bayi kami tanggal 8 April. But I thought, "Hey, we'll have a 9-days spare, that sounds save enough. Semaju-majunya palingan 6-7 hari..." Itu pikirku lho, dan Dr. Winur pun manggut-manggut saja.

Rabu, 22 Maret 2006
10.00
Coba telpon travel sana-sini dan browsing internet. Tiket pesawat tanggal 30 ternyata mahal-mahal (maklum, long weekend).
18.00
Rembugan lagi dengan istri.
"De, gimana kalo kita naek kereta aja? Berani nggak? Kita bisa berhemat lumayan banyak lho."
"Hmmm, Ade nggak yakin, Mas. Tapi nggak pa pa deh asal kereta pagi ya, soalnya kalo malam aku kan sering mules-mules."
Entah kenapa istriku tampak ragu-ragu sekali.

Kamis, 23 Maret 2006
13.30
Aku ke stasiun beli dua tiket Argo Dwipangga untuk tanggal 30 Maret (keberangkatan jam 8 pagi dari Gambir). Sekalian tiket balikku lagi ke Jakarta tanggal 2 April.
18.00
Istriku baru saja dikunjungi sahabatnya. Dia nampak ceria. Pasti mereka ngbrol ngalor-ngidul berjam-jam tadi.
"Cucian masih numpuk, Mas, tadi Mbak Niken datang. Besok aja ya nyucinya."
"Iya tenang aja, De." Aku masih yakin besok pagi akan menjadi another usual day: aku berangkat kantor jam 6.30, sementara istriku membereskan pekerjaan rumah, dst.

Jumat, 24 Maret 2006
04.55
"Mas, Mas! Bangun! Kok Ade udah ada flek-flek gini ya. Perutku juga tambah sering nih kontraksi..." istriku nampak panik. Aku juga. Masa sih, maju 15 hari? Rencana kami untuk melahirkan di Jogja dan persiapan ortuku yang sudah cukup matang di sana terancam bubar jalan. Kacaunya, kami tak menyiapkan 'Plan B' alias tak ada persiapan sama sekali untuk kelahiran di Jakarta.
Segera setelah bangun dan solat kuputuskan untuk tidak masuk kantor. Kami harus periksa pagi ini juga. Aku kabari teman kantorku lalu kutelepon RS terdekat (RS Persahabatan Rawamangun) untuk menanyakan jadwal dsb. Istriku juga menghubungi bulikku di Jogja yang kebetuan seorang bidan untuk berkonsultasi. Selesai telepon, ia sudah nampak lebih tenang.
07.00
Aku masih sempat membereskan semua cucian kami. Sekitar jam 8, semua sudah kami jemur rapi dan kami segera bersiap ke RS Persahabatan. Karena istriku tadi sudah terlanjur mulas-mulas, dia tak sempat masak untuk sarapan. Beruntung ada tukang roti lewat.
08.20
Aku panggil bajaj yang mangkal 80 meter dari kontrakan. Bu Lies, pemilik paviliun yang kami kontrak, menyarankan untuk tidak ke RSP.
"Mending ke bidan saja. Di dekat sini. Di RSP pelayanannya sering jelek."
Ia menelpon bidan itu ntuk memberitahukan kami akan datang. Akhirnya kami pun memilih bidan itu. Hanya 7 menit perjalanan dan yang jelas tidak perlu antri.
08.40
Selesai memeriksa, bidan mengisyaratkan bahwa bayinya tak lama lagi bakal lahir. Tapi dia berani pastikan bahwa paling cepat adalah besok pagi, bukan hari ini. Kami pamit pulang. Di depan rumah bidan itu, sambil menunggu bajaj lewat kami sempat diskusi lagi.
"Ya sudah De, kalau memang harus lahir di sini, ya mau gimana lagi," kataku pasrah. Dalam hati aku bingung sekali tentang 'teknis pelaksanaannya' nanti. Kapan beli segala perlengkapannya, bagaimana memenej rumah, pekerjaan, dsb selama hari-hari istriku di RS?
"Kalau siang ini kita bisa naik pesawat ke Jogja, Ade berani Mas!
"Kamu yakin, De?"
"Ya! Feelingku anak kita baru bakal lahir besok pagi!"
"Ok!" Kami menyeberang jalan, lalu masih sempat pula membeli sarapan di warteg untuk dibawa pulang.
09.10
Istriku menyiapkan makan kami sedangkan aku sibuk menelepon Lion Air. It was our lucky day, kami bisa booking penerbangan jam 13.10. Hanya saja kami harus verifikasi pemesanan di bandara dua jam sebelum keberangkatan. That'll be 11.10! Only two bloody hours from now! Bagaimana kalau jalanan macet? What the heck, buru-buru aku memesan taksi Blue Bird. Aku minta dijemput jam 9.50, artinya masih ada setengah jam lebih bagi kami untuk menyiapkan semuanya.
Kami 'menyapu' makanan di piring secepat mungkin dan mengepak barang dengan pontang-panting. Entah bagaimana, aku juga masih sempat menelepon stasiun untuk memastikan bahwa tiket tanggal 30 kami bisa dibatalkan dari Jogja.
Kami juga amankan semua piranti listrik dan minta tolong Bu Lies untuk memasukkan jemuran nanti sore.
09.55
Taksi sudah siap di depan halaman. Kami pamit ke Jogja. Bu Lies tampak bingung, dia pasti heran melihat kenekatan kami. Di dalam taksi aku mencoba mengendorkan ketegangan dengan bercanda bersama Pak Bambang, wong asli Klaten yang mengantarkan kami.
"Nanti kalo kepepet, kita nggak jadi ke Cengkareng lho, Pak, tapi langsung belok ke rumah sakit."
"Tenang aja, Mas," jawabnya tersenyum. Ia nampak 'cool' banget, tidak seperti tukang bajaj kami waktu mau ke bidan tadi, yang sedikit tertular kepanikan kami.
10.55
Kami tiba di Terminal A. Yes, it was still our lucky day. Lalu lintas lancar dan kami bisa membereskan tiket kami pada waktunya. Saat cek in, petugas di pintu masuk memperingatkan kami.
"Wah, hamil tua ya Mbak? Nanti harus periksa dokter dulu ya. Tinggal jalan kaki kok, di sini ada kliniknya. Biar ketahuan, boleh terbang atau tidak," katanya.
Apa?? Teriakku dalam hati. Bagaimana kalau tidak boleh? Bakalan kacau balau skenario ini. Kenapa sih mesti periksa segala? Lagian my wife is a doctor herself.
"Ah, nggak harus gitu, bilang saja baru tujuh bulan," kata petugas yang satunya. Lho, piye tho iki? But I like this guy better.
Dengan harap-harap cemas kami membayar pajak bandara dan memasukkan tas bagasi. Ternyata kami lolos. Petugasnya cuek saja. Kemudian kami duduk di kursi tunggu, bersiap terjebak dalam penantian panjang 1.5 jam ke depan. Semoga saja istriku nggak sering kontraksi.
11.45
Istriku mengenali seseorang yang berjalan dengan cepat melewati kami.
"Mas, itu kan Gusnawan! Cepetan dikejar sana."
Aku nggak yakin itu benar teman SMU kami, tapi kukejar juga dia. Aku setengah berlari hingga berada di depannya. Saat melihatku, dia langsung tersenyum.
"Lhooo, kowe tho, Ndan!"
Aku 'seret' dia ke tempat duduk kami. Dan kami pun mengobol seru. Lama sekali tak bersua. Kebetulan ia sepesawat dengan kami. Dengan adanya Si Gussy, rasa tegang dan panik jauh berkurang, atau tepatnya terlupakan.
12.45
Kami masuk area boarding. Lagi-lagi petugas meloloskan kami. Kemudian kami duduk lagi, menunggu di sana.
"Untung ada kamu, Gus. Nanti kalau Wiwik kenapa-napa di pesawat, kan kami not alone," guyonku.
"Wadhuh, jangan ada apa-apa dong," Gusnawan terkekeh bercampur khawatir.
"Awas kalo kamu nanti pura-pura nggak kenal!" ancamku.
13.25
Setelah jadwalnya molor, akhirnya kami naik juga. Tinggal satu halangan lagi, batinku, pramugari! Tapi ya masa kami disuruh turun?
Benar, saat melihat istriku, ia segera bertanya,
"Sudah punya surat keterangan dokternya, Pak?"
"Lho, tadi nggak disuruh bikin," jawabku dengan tampang polos, "katanya kalau baru tujuh bulan nggak perlu bikin?" tanyaku balik, kali ini dengan dibumbui kebohongan.
"Ya sudah, silakan duduk. Tapi nanti saya persilakan tanda tangan surat pernyataan, ya."
13.40
Pesawat take-off. Beberapa menit kemudian pramugari tadi memberikan surat yang harus kami tanda tangani. Intinya, kami tak akan menuntut pihak airlines bila terjadi apa-apa selama perjalanan. Kami tanggung resiko kami sendiri. Ya memang. Wong memang kami kok yang nekat. We signed it off right away.
14.30
Kami mendarat di Adisucipto. Alhamdulilah. Akhirnya kami menjejakkan kaki di Jogja. Home sweet home. Saat masuk ke taksi menuju rumah ortuku, rasa panik dan tegangku benar-benar sudah menguap! Aku sudah lega seolah bayiku sudah lahir. It was indeed a lucky day!
15.10
Tiba di rumah. Sepanjang sore kami bersantai. Anehnya, istriku sudah tak terlalu sering mulas lagi.
"Bayi kita jadi anteng nih, Mas, kayaknya emang dia cuma pengen naik pesawat aja, hahaha," candanya. Aku merasa memang mungkin baru hari Minggunya dia bakal lahir.
18.30
Aku menyempatkan diri ke Stasiun Tugu untuk 'menguangkan' tiket kami (lumayan, meski dipotong 25%). Lalu aku membeli beberapa keperluan lain yang terlewatkan ortuku - inilah enaknya di Jogja, aku bisa lincah bermotor ke mana-mana. Masih sempat juga mampir ke warnet untuk mengimel bosku memberitahukan keberadaanku dan rencana cuti seminggu ke depan. Dia hampir selalu masuk kantor hari Sabtu, jadi aku yakin dia akan membaca imelku ini keesokan paginya.
21.00
Wuihh, capek juga. Namun secara mental, kondisi kami sudah jauh lebih tenang. Kami bersiap tidur.
Baru mau memejamkan mata, istriku mulai kontraksi lagi. Akhirnya kami nggak bisa istrirahat juga. Dia ingin segera ke RS.

Sabtu, 25 Maret 2006
01.20
Setelah kontraksi semakin sering, sekitar 6-7 menit sekali, aku telepon taksi dan kami pun berangkat ke RS PKU Muhammadiyah yang berjarak 4 km dari rumahku. Dini hari itu perjalanan kami tak sampai 10 menit.
01.35
Istriku masuk ke ruang bersalin.
02.00
Aku dipanggil masuk dan lalu menemani dia di sampingnya. Kata bidan yang bertugas, istriku sudah 'bukaan 2'.
05.30
Kontraksi istriku makin sering, ia makin sering pula kesakitan. Setiap kesakitan, dia selalu mencari tanganku untuk diremasnya. Bidan memeriksa lagi. Ternyata baru 'bukaan 3'. OMG, bakalan lama nih. Aku saja yang hanya menunggui sudah mulai loyo, bagaimana dengan istriku? Sungguh tak terbayangkan beratnya. Padahal ia masih harus mengumpulkan tenaga untuk persalinan. Bisa-bisa tengah hari nanti anak kami baru lahir. Kami bersiap untuk penantian yang melelahkan.
07.00
Istriku mulai kesulitan menahan untuk tidak mengejan. Sebelum bukaannya sempurna, si ibu belum boleh mengejan untuk menghindari bengkak yang akhirnya menutup lagi bukaan yang sudah ada. Bidan memeriksa lagi.
"Wah, sudah bukaan 9!" serunya. Cepat sekali progress-nya! Mendengar itu, semua rasa capek dan ngantukku langsung hilang berganti semangat '45! Mereka segera memanggil Dr. Anisah, sesuai permintaan kami.
07.45
Dr. Anisah masuk ruangan dan segera memulai segala 'prosedurnya'. Aku informasikan ke dia bahwa hasil USG minggu ke-34 memperlihatkan adanya lilitan tali pusat di leher janin kami.
"Ah, nggak pa pa, malah nanti jadi semakin cantik," jawab Dr. Anisah.
08.09
Setelah sekian menit istriku berjihad merengang nyawa, bayi kami lahir juga! Lilitan tali pusatnya ternyata sudah lepas!
"Mana, nggak ada lilitannya gini kok," kata dokter meledekku. Kami lega, ternyata ia bisa berkelit sendiri di dalam. Inilah keajaiban itu. Bukti kebesaran Allah. Kutatap bayi yang masih belepotan darah itu Dalam tangisannya, ia sempat mencoba meraih sebuah alat yang dipegang salah satu bidan.
"Eee, nggak usah ikut membantu ya," canda bidan itu. Kami semakin lega, bayi kami jelas tampak aktif dan sehat.
08.20
Sementara dokter membereskan urusan jahitan istriku dan tetek bengeknya, aku menyaksikan bayiku dibersihkan dan diberi pakaian. Kemudian aku adzani dia dan kuambil beberapa foto. Ini salah satunya:

Tak lama kemudian aku mengabari keluarga besar kami. The rest was history.

Hadirnya Nisrina sungguh menjadi thriller bagi kami. Meleset tepat dua minggu (maju) dari perkiraan dokter sebelumnya sungguh di luar dugaan dan persiapanku. Pfffh, I'm glad it all went okay. And I think it deserves to be told here, as the longest ever post in my blog (I hope you didn't fall asleep while reading it :-p ).

Wednesday, March 08, 2006

Biaya

"Karena ketiadaan 'biaya', X terpaksa bekerja sebagai bla bla bla..."

"Mau gimana lagi, saya terpaksa. Habis nggak ada 'biaya'..."

dan seterusnya.

Cukup sering aku mendengar itu dari TV. Kalimat yang kedua jelas diucapkan 'orang awam', tapi yang pertama sering kali muncul dari si pembawa berita. Ia mewakili suatu entitas jurnalistik yang notabene 'diharapkan keahliannya' berbahasa Indonesia.

Bukankah biaya itu sesuatu yang harus dibayar, bukan sesuatu yang digunakan untuk membayar? Bukankah yang benar sebaliknya: X terpaksa bekerja sebagai bla bla bla karena banyaknya biaya yang harus ditanggung, bukan karena tidak adanya biaya?

Atau selama ini aku yang salah memahami arti 'biaya'? Anybody has a KBBI around here?

Monday, February 27, 2006

Uang 'Ah'

Beberapa waktu lalu aku terlibat percakapan cukup serius tentang korupsi dengan seorang rekan kantor. Aku bercerita tentang beberapa teman dan kenalanku yang bekerja di instansi-instansi pemerintah yang cukup 'basah'. Tentu saja tidak kusebutkan nama. Selain takut terjebak ghibah & fitnah, percuma saja, rekan kantorku itu juga bakalan tak mengenal mereka.

Intinya, aku takjub dengan 'prestasi materiil' mereka yang luar biasa. Satu di antaranya, the younger one, sudah memiliki rumah sendiri plus mobil mulus tipe terbaru. And he hasn't been working for more than 4 years. Yang satunya lagi malah lebih hebat. Pria akhir 30-an ini rata-rata menangguk tak kurang dari 25 juta per bulan dari tugasnya sebagai petugas keuangan di suatu departemen. And he barely works more than 4 hours a day.

Kami sepakat untuk tidak berprasangka buruk bahwa mereka korupsi. Maksud kami tidak secara langsung - trust me, we WANT to believe that they are 100% corruption-free. Belakangan kami berkesimpulan bahwa mungkin ini ada kaitannya dengan apa yang aku istilahkan sebagai uang 'ah'.

Mengapa aku menyebutnya uang 'ah'? Perhatikan saja situasi ketika Bapak X atau Ibu Y dari Dinas Z disodori amplop berisi uang itu oleh rekanan bisnis, nasabah, customer atau sejenisnya:

"Aahh, nggak perlu repot-repot begitu." (sambil mendorong amplop menjauh)

"Nggak pa pa Pak/Bu, saya ikhlas kok."

"Aahh, jangan, ah." (masih mengisyaratkan menolak, tapi mulai melunak)

"Ayolah, anggap saja ini ucapan terima kasih dari saya dan sebagai tanda persahabatan kita."

"Aahh, saya jadi nggak enak nih." (mulai mengulurkan tangan pelan-pelan)

"Nah gitu dong Pak/Bu. Mohon jangan dilihat jumlahnya, yang penting ketulusan niat saya."

"Aahh, Anda ini memang baik sekali, terima kasih ya." (sambil menerima amplop lalu cepat-cepat memasukkanya ke laci meja atau saku)

Sering disahkan sebagai bentuk terima kasih atau hadiah, pemberian semacam ini harus disikapi dengan hati-hati karena 'keabu-abuannya'. Mau dibilang korupsi, nggak bisa, tapi mau dihukumi rezeki halal, kok sepertinya ada yang mengganjal (bagi sebagian orang sama sekali tidak mengganjal, tapi malah bikin lega, hahaha).

Untuk disebut 'tanda pertemanan/persahabatan' pun jelas diragukan karena saat Pak X atau Bu Y tak lagi menjabat, sang rekanan nggak bakal mau lagi 'berteman' dan akan memilih teman baru. Siapa lagi kalau bukan si pejabat pengganti.

Sepertinya kok aku merasa tetap ada yang tidak benar dengan uang ah ini. Kalau Anda sendiri bagaimana? Masih doyankah uang 'ah' ini? Dan bagi yang belum pernah menerima (seperti aku, hahaha), inginkah merasakannya?

Thursday, February 23, 2006

Indonesia's Biggest Problem

A tourist was having a chat with his guide while walking down Malioboro Street. Not about hotels or souvenirs, though.

Tourist : I've heard a lot about Indonesia's unpleasant conditions these past few years. Tell me, what is your nation's biggest problem currently?
Guide : Depends.
Tourist : Depends on what?
Guide : Depends on what Metro TV bradcasts today.

Tuesday, February 21, 2006

Sabbatical

Di ajang Formula 1, sabbatical identik dengan 'istirahat panjang' seorang pembalap, 1 atau 2 tahun, absen sementara dari arena. Dalam prakteknya, ada yang mengisyaratkan hendak ber-sabbatical justru keterusan, nggak balik-balik lagi ke belakang kemudi alias pensiun selamanya. Ada pula yang sebenarnya memang ingin gantung setir, tapi didengung-dengungkan sabbatical oleh pers, sesama pembalap atau penggemar karena ia masih diharapkan kembali meramaikan kompetisi.

Aku sendiri, tak terasa sudah dua bulan lebih sabbatical dari nge-blog. Bukan karena ingin pensiun, tapi lebih karena bosan dan internet time yang nggak plentiful lagi. Blogfam yang dulu kukunjungi lebih dari 8-9 kali seminggu baru aku tengok dua kali dalam 3 bulan terakhir.

Ingin rasanya sering meng-update blog, bahkan mengganti tampilannya. Juga paling nggak 2 hari sekali dolan ke Blogfam. Tapi ya itu tadi, spirit untuk melakukannya sedang down banget. Belum lagi koneksi internet kantor, yang katanya baru saja di-upgrade, tapi malah makin lemot aja dan bahkan susah sekali masuk ke situs-situs tertentu (bukan diblok lho ya, soalnya setelah di-refresh 13 kali, bisa masuk juga akhirnya meskipun ada komen menyebalkan 'Error in page' di pojok kiri bawah status bar).

Ya sudah, anggap saja tulisan curhat ini menjadi pemicuku untuk back from blogging sabbatical. We'll see.