Tuesday, July 05, 2005

Audisi

Istilah ini sekitar setahun belakangan menjadi tren tersendiri di dunia pertelevisian kita, terutama yang berkaitan dengan apa yang beken disebut 'reality show'. Dari yang 'masuk akal' - seperti kontes menyanyi, akting atau melawak, yang memang lazim diaudisikan dan di-show-business-kan - sampai yang sedikit dipaksakan macam kontes da'i, berebut rumah mewah, berlomba meraih cinta seorang milyuner gadungan yang ganteng, mengincar posisi direktur atau warisan. Yang lebih heboh lagi adalah audisi untuk memilih pembantu seorang selebritis, dengan iming-iming gaji 10 juta per bulan.

Setelah audisi ini kelar, biasanya akan terpilih beberapa kandidat yang kemudian - biasanya juga - akan menjalani semacam 'karantina', proses 'eliminasi' yang - lagi-lagi biasanya - diadakan tiap minggu (bisa disinonimkan dengan: penjemputan, ekstradisi, lengser, penggosongan atau istilah-istilah lainnya yang dipaksakan pemakaiannya agar tidak disebut meniru), sampai saat final di mana sang pemenang ditentukan.

Image hosted by Photobucket.com


Tahap-tahap itulah yang kemudian diekspos, dipecah-pecah dalam paket-paket siaran, bahkan diberi porsi khusus dalam acara berita atau infotainment. Dari sini stasiun TV mungkin akan menangguk keuntungan (slot iklan, promosi stasiun TV itu sendiri, atau lainnya, yang kita sebagai orang awam mungkin tidak kapabel untuk menganalisisnya).

Terlepas dari protes beberapa pihak (ada yang keberatan dengan eksploitasi wanita dalam perebutan cinta sang 'milyuner', ada yang merasa profesi PRT direndahkan dalam audisi pembantu), kita bisa melihat tren acara semacam ini sebagai another temporary booming di dunia pertelevisian kita. TV adalah bisnis. Dan kalau terbukti feasible alias menguntungkan, suatu konsep acara akan ditiru oleh para pesaing. Perkara formatnya dibuat serupa atau berbeda, itu hal yang lain.

Kita ingat telenovela, film India - memang impor, tapi sempat merajai layar TV kita, berbagai kuis, sinetron percintaan, lalu sinetron laga (berseting kerajaan-kerajaan zaman antah-berantah), lalu sinetron remaja, lalu sinetron misteri - yang terispirasi tren acara para dedemit, lalu sekarang sinetron berbumbu agama (tapi tetap mengusung klenik dan - sekali lagi - para dedemit), acara-acara gosip kasak-kusuk kabar burung dunia selebritis, acara-acara yang mengangkat tema 'membantu orang miskin' (modalnya, nikahnya, bayar utangnya, sekolahnya, rumahnya, dan suatu saat nanti mungkin pemakamannya) dan tentu saja yang kita bahas sekarang, yang berkonsep audisi-isolasi-eliminasi (maaf kalau banyak yang terlewat, penulis lebih suka tren siaran langsung sepakbola sih).

Pertanda apakah ini? Atau memang bukan pertanda apa-apa? Bahwa tren (baca: meniru) adalah salah satu warna hidup yang manusiawi? Apapun itu, stasiun TV sebagai pihak yang bertanggung jawab dengan penayangannya, seharusnya berusaha lebih selektif dan kreatif. Jangan hanya berkonsentrasi pada profit secara finansial bagi mereka, tapi juga manfaat hiburan dan pendidikan yang seimbang bagi masyarakat. Sudah terlalu banyak paket acara yang membodohi kita, menginjak-injak intelektualitas pemirsanya - atau yang terpaksa menjadi pemirsa karena tak ada alternatif hiburan lain yang layak.

Pertelevisian kita sepertinya memang sedang tumbuh dewasa. Semoga trik tiru-meniru ini hanyalah salah satu proses pembelajaran saja dalam masa pertumbuhan itu.

1 comment:

cikubembem said...

kapan ni kamu mau ikutan audisi nDan?