Wednesday, June 01, 2005

Bebas Tembakau

Lho, jadi kemarin itu Hari Bebas Tembakau Dunia (World No Tobacco Day)? Kok aku nggak tau ya? Kayaknya perlu lebih sering ngikutin berita nih biar nggak kuper gini.

Yup, hari dimana semua orang diharapkan menikmati 24 jam tanpa asap rokok itu memang jatuh pada 31 Mei. For some reason. Aku perlu ngecek beberapa referensi untuk tahu mengapa tanggal itu yang dipilih. Until then, aku ingin merenung sejenak, mengapa bahkan momen seperti itu perlu diadakan in the first place.

Ada orang hobi makan es krim, ada yang doyan jeroan, ada juga yang ketagihan minum bir. Dan jelas, banyak sekali yang nggak bisa lepas dari rokok. Masing-masing kegemaran itu punya bahaya laten bila dituruti terlalu sering (well, kata 'terlalu' sendiri emang nggak pernah baik efeknya), tapi rokoklah yang sepertinya paling luas dan parah efek merusaknya. Mengapa? Karena rokok menyebarkan asapnya (baca: bahayanya) hampir setiap saat, di semua tempat, tak peduli kepada siapa.

Dengan segala potensi bahaya yang dikandungnya (begitu banyaknya zat kimia dalam rokok, bila hendak ditulis semua di kemasannya, mungkin nggak bakal ada tempat lagi buat menaruh merk rokok itu sendiri di sana), aku benar-benar nggak habis pikir mengapa begitu banyak orang bisa menggemarinya. Kok tega-teganya seseorang dengan sadar menggerogoti kesehatan tubuhnya sendiri - dan pada gilirannya kesehatan orang-orang di sekitarnya: keluarga - yang katanya dicintainya?

Image hosted by Photobucket.com


"Ok deh, kalo gitu gue nggak akan ngerokok kalo istri atau anak gue lagi ama gue. Kalopun ada apa-apa, biar gue sendiri yang tanggung akibatnya." Hanya orang bodoh yang berpikir ini menyelesaikan masalah. Menanggung secara fisik mungkin iya, tapi apakah kalau seorang bapak sakit dibantai rokok, istri dan anaknya tak akan menanggung akibat lainnya? Anggaran bulanannya untuk rokok saja mungkin sudah cukup besar bila selama ini ditabung, bukan 'dibakarnya'.

"Ok deh, gue nggak bakal ngerokok di tempat umum atau ruangan ber-AC." Yang berfilosofi 'tidak merugikan orang lain' ini memang lebih baik daripada orang-orang tak beradab yang merokok anywhere they want to. Tapi apakah dengan tidak merugikan orang lain, kita jadi punya hak untuk merugikan diri sendiri? Atau apakah mereka berpikir bahwa kenikmatan setiap batang rokok yang mereka hisap sebanding dengan harga yang mereka bayar, and above all, kerugian fisik yang akan mereka tanggung?

Setiap manusia dibekali hati dan akal. Namun sedikit sekali yang bisa menggunakan dan mesinergikannya dengan benar. Seorang perokok jelas tidak termasuk yang sedikit itu.

3 comments:

eloque said...

Bener bgt, Mas!
Ngerokok ato engga, itu pilihan. Dan setiap pilihan nunjukin SIAPA kamu sebenernya, dan gimana mental kamu juga.
Move out of the way, smokers! (At least during that particular day)

Anonymous said...

Haaa...jadi inget jaman aku ekstrim ama rokok : sampe semua artikel ttg benda itu kukliping n kuhapalin semua, biar bisa debat ama perokok heheheh... skrg sih ga seekstrim itu, ga setiap perokok aku marahin :p aku lebih toleran kalo ada org merokok (well, as long as aku ga hirup asapnya lah), but still, this is coz i care bout u, dear smokers, sungguh mati... aku lebih suka if u guys stop smoking :)

cikubembem said...

selama di jepang, asmaku ga pernah kambuh. balik ke indo liburan sebulan, asma kambuh, gara2 orang ngerokok di ruang ber AC. Plis deh...