Monday, March 28, 2005

Ternyata...

Aku melihat beberapa pasangan tampil mesra di suasana yang temaram. Ditambah alunan musik pengiring yang romantis dengan vokal manis seorang biduanita, aku pikir iklan ini bakal mempromosikan jewellery, furnitur, pakaian/butik mewah, hotel atau mungkin juga rokok.

Sampai di penghujung iklan... Oalah... Ternyata iklan Irex Max tho... Pakai slogan 'celebration of love' lagi. Wuih, iklan 'obat kuat' yang biasanya agak-agak vulgar - dengan bumbu wanita cantik yang nyaris berbusana (baca: berbusana seksi) dan pria-pria ber-gesture 'khas' - kali ini dikemas dengan sentuhan berkesan eksklusif.

Satu hal yang menurutku paling menarik adalah 'usaha keras' si pembuat iklan untuk menyampaikan pesan bertema 'seks bertanggung jawab' atau seks yang sesuai norma (agama, susila, hukum, dsb) kepada para pemirsa yang notabene menganut paham 'ketimuran' seperti kita. Caranya? Lihat saja jari manis tangan kanan para aktor dan aktris di iklan itu yang dihiasi cincin - which supposed to be wedding rings, of course. Masalah itu cincin kawin 'di antara mereka' atau bukan, itu perkara lain... Hehehe...

Tuesday, March 15, 2005

Tidak Ada Perundingan

Kita memang bodoh dalam urusan pemanfaatan sumber daya alam secara optimal. Kita memang koruptor dalam hampir segala hal. Tapi kita tidak menjajah negara lain, mencaplok teritori bangsa lain atau menjarah kekayaan negeri tetangga. Untuk hal-hal terakhir ini, justru kitalah yang sering jadi korban.

Apakah karena pohon mangga di halaman tetangga kita tidak terawat degan baik, lantas kita boleh memupuk dan memeliharanya untuk kemudian mengambil buahnya dan pada akhirnya memiliki pohon mangga itu? Berikut petak tanah di mana pohon itu tumbuh?

Malaysia coba melakukannya. Lagi. Tapi, sudah. Lupakan yang lalu-lalu. Lihatlah saja yang sekarang: Ambalat.

Aku selalu menaruh hormat pada mereka karena kemajuan yang begitu pesat di sana. They grow up fast. Ekonominya, pendidikannya, teknologinya, industrinya, wisatanya. Tapi yang jelas bukan mentalitasnya. Itu yang membuat hormatku meleleh.

Setelah beribu kasus TKI yang diperlakukan semena-mena di sana, mereka 'iseng' lagi mencuri-curi kesempatan untuk mencuri-curi. Bukan masalah seberapa banyak minyak atau gas di sana, atau sebagus apa potensi wisatanya, or how much bloody fish live there, tapi ini masalah kedaulatan. Anda tidak berhak mengeksplorasi wilayah orang lain tanpa izin, apalagi mencoba mengambil wilayah itu. That's it.

Mereka selalu bilang bahwa kita bersahabat, saudara, whatever. Tapi itu kalau sedang di depan kita saja. Di belakang mereka mengintip-intip kesempatan untuk mencuri, menyiksa para pekerja kita, mempekerjakan 'TKI ilegal' untuk kemudian tidak membayarkan gajinya, lalu menangkapinya dan mencambukinya seperti binatang. Ketika kebun-kebun sawitnya sudah hampir siap panen, kembali mereka bilang kita saudara, bahwa mereka memerlukan TKI untuk segera kembali. Kembali ke tempat mereka diperlakukan tidak manusiawi dan dibayar sedikit di atas upah budak?

Karena kita 'bersahabat baik', mari kita rundingkan masalah Ambalat dengan baik-baik pula. Apa yang harus dirundingkan, sahabatku? Seorang pencuri tertangkap ketika hendak mengambil sepeda motor di kampungku beberapa waktu lalu. Mereka tidak mengajaknya untuk berunding membahas apakah si pencuri boleh pergi atau harus minta maaf dulu atau malah boleh pergi dengan membawa sebuah ban dari motor yang hendak dicurinya. Tidak ada perundingan, sahabatku. Yang salah harus dihukum.

Sekarang katakan padaku, sekali lagi, apa yang hendak kita rundingkan?
Oh, and it's Indonesia, you b**tards, not 'Indon'!

(Sama seperti GAM. Bagaimana mungkin kita berunding dengan pemberontak? Di ujung dunia pula, berdingin-dingin di negeri seorang pemrakarsa yang entah seorang filantropis sejati atau pencari kesempatan, perhatian dan hadiah Nobel kelas wahid. Apa yang harus dirundingkan, saudaraku? Letakkan senjatamu dan berhentilah merajuk seperti anak serakah. Lihatlah saudara yang lain. Mereka setia. Bahwa merdeka adalah merdeka sebagai bangsa Indonesia, bukan sendiri-sendiri. Saudaraku, engkau seperti Malaysia. Serakah. Aku benar-benar takjub melihat kebandelanmu selepas peringatan dahsyat yang terjadi belum lama ini.)

Tuesday, March 08, 2005

Kaos, Pilihan, Capek

Cool T-shirt. Yep, kaos Blogfam hadiah favorit lomba FF-cerpen bulan lalu akhirnya kuambil juga. Begitu kupamerin di depan beberapa temen kos, mereka langsung naksir dan memintanya. Weitss, ini bukan sembarang kaos. So, sorry girls, I'm gonna keep this one for myself.
Pencarian rumah tempat mengambil hadiah itu sendiri sungguh melelahkan. Jalan Surabaya 15. Tempat 'praktek' dari salah seorang dedengkot Blogfam ini - yang entah kenapa hanya beliau kunjungi kadang2 - terletak jauh sekali dari kosku. Sekitar 400 meter. Hwahwahaha.. Ya. Cuman 11 menit saja jalan kaki di siang yang redup tadi. Tapi dasar badan lagi agak sakit, segitu juga terasa jauh.

Hari ini memang aku gak ngantor - dengan alasan sakit tentunya - demi acara ngambil kaos. Hwahwahaha (lagi). Of course not. Di samping memang benar, aku lagi nggak enak badan, ada undangan untuk sekedar see my chances elsewhere. Yes, interview gitu deh. Tepat seminggu setelah sebelumnya ada interview di tempat lain lagi. Nah, kalo yang ini beneran jauh. Citos aja masih sonoan dikit :-( Pulang kos, demam lagi deh badan. Tapi demi menghormati undangan dan siapa tahu peluang di sana memang bagus, sakit sedikit no problemo-lah.
Di perjalanan pulang si interviewer minggu lalu ternyata nelpon. Wah, pilihan lain. Yang jelas dia udah mengajukan tawarannya beberapa hari lalu dan dengan terpaksa belum bisa kuterima. Dengan sedikit menaikkan tawaran, hari ini dia menjanjikan abroad training dan beberapa angin surga lainnya. Standarlah. Di perusahaan yang sekarang mereka juga pernah berjanji serupa. Tapi nggak ada tanda-tanda mau ditepati tuh. I'm tired of promises. Just show me the money and I'll be a good boy (kedengarannya matre banget yah, tapi mau gimana, kalau terlalu terpesona dengan janji-janji, biasanya cuma kecewa sih).
So, kayaknya mereka harus mencari kandidat lain. I guess I'll just stick around here for a while - kecuali orang Belanda yang siang tadi has something very tempting for me. Let's see what the meneer's got next week.

Pilihan. Kita memang selalu dihadapkan padanya. The art is deciding which one is the best. Seperti saat ini. Sudah hampir jam 9 malam dan badanku makin nggak enak saja. Nggregesi, kalo orang Perancis bilang, eh, salah ya, he3. Pilihan terbaikku kayaknya pergi ke apotek beli obat flu terus pulang and have a good rest. I hope.

p.s. Happy birthday to my li'l bro. See you in Jogja this weekend...