Friday, December 16, 2005

Filipina

Mereka mengenakan jaket sportif bertuliskan 'Indonesia'. Jelas mereka para atlet kita yang akan mewakili Indonesia di suatu ajang internasional. Hmmm, tapi mereka kurang sempurna, banyak yang berkursi roda. Ahhhh, of course, selalu ada paralympic setelah olympic. Dan setelah Sea Games 2005 kelar, maka Special Sea Games pun digelar di pula di Filipina.

Kami sepesawat. Terharu juga melihat semangat di wajah-wajah itu. Kita yang secara fisik lengkap saja belum tentu lho setegar mereka. Sayang, selama di sana kami tak sempat memberi dukungan langsung dari pinggir arena. Tapi aku yakin mereka bakal memberi hasil lebih baik dari 'kontingen sempurna' kita yang konon dahulu kala pernah berjaya tak tertandingi di Sea Games, tapi kini terseok bersaing dengan tim medioker macam Myanmar di papan tengah klasemen perolehan medali - by the time you read this, most likely you'd have already known the results, tentu saja kalau ada koran atau TV yang memberitakannya.

Anyway, aku nggak akan berpanjang lebar tentang olahraga. Pun tentang belasan rekan seperjalanan lain - para wanita berusia 20-30an, berwajah lugu, berbusana muslim seragam - yang menuju Arab Saudi (pffhhh, pasti capek ya, transit di Singapore, Manila, lalu mungkin entah di mana lagi, lalu Riyadh). Karena pasti kita bisa menebak dalam rangka apa mereka ke sana.

Tentang Filipina? Well, nggak banyak sih yang bisa aku ceritakan selama kunjungan singkat seminggu ke sana (dalam rangka urusan kantor tentu saja, bukan berwisata :-p), tapi paling tidak aku memperoleh pengalaman pertama going abroad, meskipun di negara yang sangat-sangat serupa dengan Indonesia. Lumayan, jadinya sekarang aku berstatus sah pernah ke luar negeri, hahahaha...

Image hosted by Photobucket.com

Melihat foto salah satu sudut Manila di atas, jelas Filipina sangat jauh dari 'wah'. Bahkan boleh dibilang mereka masih sedikit tertinggal dari kita. Manila lebih semrawut dari Jakarta. Di beberapa sisi kotanya kita akan berpikir: "Sebenarnya kota ini belum jadi apa sudah rusak sih?"

So, Jakarta is not THAT bad? Well, if you look at Manila, then it surely is. But then again, serupa dengan olahraga kita, kalau kita tak bisa mengimbangi mereka dalam akselerasi perbaikannya, bukan tidak mungkin tak lama lagi mereka yang akan berada di depan kita.

Oh well, lain kali kita sambung lagi. Ingin rasanya bisa banyak menulis - ini saja comeback setelah hampir sebulan nggak update blog :-( And yes, I finally chose bigger fontsize for the sake of healthy reading - tapi, you know, seperti kata Arkarna, it's always so little time so much to do. Salamat* for reading this.

*Terima kasih dalam Tagalog.

2 comments:

Anonymous said...

Well, Bondan, pa kabar, lama ga mampir nih kesini... jakarta emang lumayan, but hmmm dibanding kota lain di Indonesia yaaa...terlalu jomplang dibanding jkt, bukan begitu?? :)

anne said...

lam kenal ya pak....
kalo menurut gw jakarta mestinya dibandingin dengan makati city.. district bisnisnya.. makati jauh bedanya dengan manila...

tapi berbahagialah jakarta masih banyak taxi bagus... disana.. hiks..sedih...